Rabu, 08 April 2015

24 Jam di Dubai



Selama 5 tahun tinggal di Qatar, kami belum pernah berkunjung secara khusus ke Dubai. Padahal jarak tempuh Qatar-Dubai menggunakan pesawat, hanya membutuhkan waktu 50 menit, sama seperti lama perjalanan Jakarta-Yogyakarta menggunakan pesawat.

Biasanya Dubai hanya menjadi tempat transit sebelum sampai di Qatar jika menggunakan maskapai Emirates.

Namun liburan term break bulan Februari lalu, mau tidak mau kami harus tinggal di Dubai selama 24 jam karena penerbangan dengan Emirates mengalami penundaan selama 30 menit dan mengakibatkan kami ketinggalan penerbangan lanjutan menuju Seoul yang menjadi tujuan liburan kali ini.

Emirates memberikan fasilitas menginap di Arabian Park Hotel dan makan 3X sehari untuk kami sekeluarga. Namun liburan di Dubai yang mendadak, membuat kami tidak memiliki rencana akan kemana selama 24 jam ke depan.

Keesokan paginya, baru kami menyusun rencana. Mula-mula kami akan mengunjungi Al Jumeirah Beach, Burj Khalifa lalu ke Dubai Mall. Namun rencana yang kami susun untuk beberapa jam ke depan ternyata tidak berjalan dengan baik, karena saat itu adalah hari Sabtu yang merupakan hari libur, dan akibatnya dimana-mana penuh keluarga yang berjalan-jalan ke Al Jumeirah Beach dan Dubai Mall.

Kami juga mengalami kesulitan mencari taksi, karena nampaknya taksi di Dubai tidak bisa berhenti di sembarang tempat. Akibatnya kami harus berjalan jauh untuk mendapatkan taksi. Kami memutuskan tidak mengunjungi Burj Khalifa karena hari sudah menjelang sore, dan kami memilih ke Dubai Mall yang jaraknya lebih dekat dengan posisi kami.



Dubai Waterfall


Di Dubai Mall kami juga tidak bisa apa-apa. Mall penuh dengan manusia. Berdesak-desakan. Akhirnya kami hanya berputar-putar di Mall, antri menunggu taksi dan segera kembali ke hotel karena kami harus siap ke bandara untuk penerbangan menuju Seoul.



Candylicious, toko permen di Dubai Mall yang menjual berbagai jenis permen


24 jam kami di Dubai, kami tidak berganti pakaian karena koper sudah terbang duluan ke Seoul, kami lelah dan berantakan. Dan kami masih harus menempuh perjalanan ke Seoul selama 8 jam.


Selasa, 07 April 2015

Mengunjungi Museum DE’MATA Trick Eye

Museum De Mata Trick Eye adalah museum gambar 3 dimensi di yogyakarta yang kabarnya merupakan museum gambar 3D terbesar di dunia.


DE’MATA Trick Eye Museum menempati area basement Gedung Umar Kayam XT Square seluas 1.500 m2 dan terpasang 120 buah gambar 3 dimensi yang secara berkala gambar-gambar tersebut akan diganti gambar yang baru. Fasilitas yang di berikan di area DE’MATA Trick Eye Museum tak kalah spektakuler, dalam area tersebut sudah terinstalasi pencahayaan yang optimal untuk mengambil foto dengan adanya staf onsite yang akan membantu, bahkan fasilitas wifi yang memudahkan pengunjung untuk mengupload fotonya ke dunia maya. Tak hanya itu didalam wahana tersebut juga dilengkapi dengan adanya radio mall, kafetaria, toko sovernir, toilet, parkir dan tentunya full AC ( http://www.jogjakota.go.id/news/).



Tiket masuk ke lokasi adalah Rp 25.000 untuk hari biasa dan Rp 35.000 untuk weekend dan hari libur nasional.


Kami mengunjungi museum itu saat weekend sehingga relatif banyak pengunjung dan kami harus antri untuk membuat foto. Namun saat melihat hasil foto yang seolah-olah hidup, kami puas berkunjung kesana, terutama anak-anak yang bisa berpose habis-habisan.



Mbak Kenti…Oh…Mbak Kenti


Ting…Tong…
“….Buuuuu…..kulonuwun…..”
“…Buuuuu…sayur bu….”

            Suara tukang sayur gendong langganan ibu saya terdengar dari teras depan.
Mbak Kenti nama penjual sayur gendong itu. Dia sudah menjadi langganan ibu saya sejak kami pindah ke desa  Nuren yang terletak di tepi jalan raya menuju Kopeng. Seingat saya, dia sudah mulai menawarkan dagangannya sejak tahun 1990. Sejak saya masih kuliah.
  

          Ibu saya bercerita, mbak Kenti, tinggal jauh dari tempat dia berkeliling menawarkan dagangannya. Dia berjalankan kaki pulang pergi. Perjalanan jauh berkilo-kilometer, menawarkan dagangannya dari satu pintu ke pintu lain, membuat dia baru sampai rumah ibu saya sekitar jam 2 atau 3 siang.
            Jika dia mulai berangkat dari rumah saat setelah subuh, dan jam 2 masih menawarkan sayuran dagangannya…bisa diperkirakan jarak tempuh perjalanannya yang sangat jauh. Pada jam itu, tentu saja sayuran yang dia tawarkan tidak lagi sesegar saat masih pagi. Ibu saya tidak pernah tega menolak dagangannya. Walau hanya sekedar membeli sayur bayam yang mulai layu, ibu saya tetap bersedia membelinya. Paling tidak dari rumah ibu saya, mbak Kenti berhasil mengantongi Rp 5,000,-
            Tahun lalu  saya datang mengunjungi ibu saya dan menginap selama beberapa hari disana.Kebetulan anak-anak diajak papanya menginap di vila sepupunya.  Seperti saat kuliah, saya memilih tidur bersama ibu saya di kamarnya. Siang itu saat saya masih bermalas-malasan di kamar ibu, saya dikejutkan oleh seorang wanita yang mengintip ke dalam rumah dari jendela kamar ibu saya. Dengan kaget saya berlari keluar kamar dan langsung menemui ibu saya yang sedang memasak di dapur.
"Bu, ada perempuan yang ngintip dari jendela kamar ibu"
Dengan tenang ibu saya berkata, "Oh itu mbak Kenti. Dia biasa ngintip gitu sebelum membunyikan bel. Kamu inget mbak Kenti kan? Dia sudah jual sayuran keliling sejak kamu masih kuliah"
Iya saya ingat mbak Kenti. Saat kami baru pindah ke desa Nuren, kami selalu berlangganan sayur pada mbak Kenti. Dia selalu membawa jajanan pasar  murah meriah yang kami suka. Mbak Kenti sudah berjualan sejak muda, sejak belum ada si mamang, tukang sayur keliling yang menggunakan motor.
            Dengan bergesernya waktu, mbak Kenti mulai mendapat persaingan ketat dari penjual sayur lainnya,  Salah satu pesaingnya adalah si mamang yang masih muda, pakai motor, membawa dagangan yang lebih banyak dan komplit, dan yang pasti, si mamang sudah sampai di rumah ibu saya pada jam 8 pagi Namun mbak Kenti pantang menyerah. Dia tetap berkeliling ke desa-desa yang dia lewati menawarkan sayuran yang dia bawa tanpa kenal lelah, panas dan hujan tidak menghalangi langkah kaki kurusnya untuk terus berjalan.
            Bulan lalu saya kembali menginap di rumah ibu saya untuk melepas kangen. Selama tiga hari saya disana, saya tidak melihat sosok mbak Kenti yang mengintip ke jendela kamar ibu atau membunyikan bel rumah. Kemudian saya bertanya pada ibu saya,
“Bu, tumben mbak Kenti nggak keliatan beberapa hari ini?”
“Kayaknya mbak Kenti lagi rewang di tetangganya yang punya hajatan”, jawab ibu. Lalu meluncurlah cerita ibu tentang mbak Kenti yang tidak pernah putus asa dalam mencari nafkah, bertahun-tahun menjalani profesinya tanpa pernah kenal lelah dan mengeluh. Ibu juga bercerita, saat saya menikah 20 tahun lalu, mbak Kenti juga hadir dan menyelipkan amplop berisi uang ke tangan ibu saya. Di desa tempat tinggal ibu saya, jika ada salah satu warga yang menikahkan anaknya, maka para tetangga jauh dan dekat akan datang memberi selamat tanpa perlu kita buatkan daftar undangan.  Mbak Kenti menghadiri perkawinan saya karena mengenal keluarga kami dan memberikan amplop yang mungkin berisi keuntungan berjualannya selama 10 hari. Bagi kami, kehadiran tetangga-tetangga kami sudah merupakan kebahagiaan tersendiri tanpa perlu ada amplop sebagai bentuk mereka ikut merasakan kebahagiaan kami.

Hari ini saya duduk di teras rumah ibu menunggu kedatangan mbak Kenti, saya ingin mengulang kenangan masa kuliah, mencari jajan pasar yang murah meriah dari gendongan mbak Kenti, makan jajanan tersebut sambil mengobrol. Dari jauh saya melihat sosok kurus membawa tenggok yang digendong di punggungnya dengan menggunakan jarit, berjalan memasuki halaman rumah ibu saya, memakai sendal jepit yang sudah tipis, namun tetap menebarkan senyumannya yang khas. Tanpa menunjukan wajah kelelahan dia berkata, “Sayur bu...”

Senin, 06 April 2015

Menelusuri Kali Elo Dengan Perahu Karet



Salah satu cara mengisi liburan dengan seru adalah mengikuti kegiatan rafting. Di pinggir jalan perbatasan Yogyakarta-Magelang banyak penawaran rafting dengan informasi nomor handphone yang bisa dihubungi.

Saya dan anak-anak mencoba menghubungi salah satu penyelenggara untuk ikut kegiatan rafting. Ada beberapa paket yang ditawarkan, mulai dari pemula sampai mahir. Kami tentu saja memilih level pemula karena ini rafting pertama kami, dan Aya, si bungsu, baru berusia 9 tahun.

Harga paket yang ditawarkan rata-rata hampir sama. Berkisar antara Rp 500.000-Rp 600.000 untuk satu perahu dimulai dari desa blondo, mungkid magelang dan berakhir di kelurahan mendut.

Saat kami sampai di lokasi pemberangkatan, kami diminta menggunakan jaket pelampung, dan helm. Sebelum mulai, pemandu akan menjelaskan mengenai cara memegang dayung, cara mengayuh dan tips sederhana mengenai keselamatan. Setiap perahu dikawal seorang pemandu yang mahir mengendalikan perahu karet.

Perjalanan yang kami lalui cukup menyenangkan, namun ternyata buat anak-anak saya, level pemula terlalu membosankan, mereka ingin yang lebih dasyat jeramnya dibandingkan yang mereka lakukan kali ini. Liburan panjang mendatang, mereka akan memilih level yang lebih sulit.




Setelah menempuh separuh perjalanan, kami berhenti dahulu untuk sekedar minum dan makan makanan kecil. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan.

Setelah sampai di tujuan, kami sudah dijemput mobil angkot untuk kembali ke base camp untuk membersihkan diri dan makan siang. Makan siang yang disediakan penyelenggara sudah termasuk harga paket.


Pantai Sundak, Salah Satu Pantai Dengan Sunset Terindah



Pantai Sundak adalah satu dari 15 deretan pantai di kawasan Gunung Kidul, Yogyakarta. Pantai ini terletak di Desa Sidoharjo, Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunungkidul. Untuk mencapai lokasi tersebut, dibutuhkan waktu kurang lebih 2 jam dari Kota Yogyakarta.

Saya dan keluarga sangat menyukai pantai ini dibandingkan pantai lainnya di sepanjang pantai selatan Gunung Kidul. Lokasi yang kami sukai bukan di pintu masuk menuju pantai Sundak, namun ada lokasi di pinggir pantai yang relatif sedikit pengunjungnya mungkin karena lokasi ini tidak terlalu mencolok letaknya.

Beberapa tahun lalu, belum banyak yang mengetahui sisi pantai Sundak ini. Namun sekarang sudah mulai ramai dengan adanya 2 warung makan, tempat parkir, beberapa gubug tenda dan sekitar 3 bangunan kayu sederhana yang bisa menjadi tempat menginap.

Saya sekeluarga pernah mendirikan tenda di pinggir pantai Sundak itu, kami berkemah semalam disana, tentu saja sebelumnya kami minta ijin pada warung makan yang paling dekat dengan tenda kami.

Dengan berkemah di situ, kami bisa menikmati sunset dan sunrise yang indah sekali.






Merapi Volcano Tour: Off Road Menggunakan Jeep Wisata



Bencana erupsi gunung merapi di tahun 2010 menyisakan kesedihan bagi penduduk yang tinggal di daerah tersebut. Namun dengan berjalannya waktu, bencana di daerah tersebut bisa dimanfaatkan menjadi lokasi wisata yang unik dilengkapi dengan fasilitas ojek dan jeep kuno yang bisa membawa pengunjung mendatangi lokasi bencana.

Yang menarik dari volcano tour ini, selain mengunjungi lokasi bencana menggunakan jeep kuno, pengunjung juga diajak off road melalui lokasi berbatu-batu. Bagi yang menyukai kegiatan petualangan, off road ini cukup membuat adrenalin terpacu. Namun jika pengunjung hanya ingin perjalanan santai, pemandu wisata sekaligus sopir jeep,  akan membawa pengunjung berjalan santai, menikmati pemandangan sambil merasakan angin dingin di kaki gunung merapi. Pengunjung juga diberi masker agar tidak terkena debu di perjalanan karena lokasi yang dikunjungi penuh debu dan jalan tanah berbatu.

Ada banyak pengelola jeep wisata di kaki gunung merapi tersebut. Paket yang ditawarkan juga relatif memiliki harga yang sama, mulai dari Rp 300.000 untuk 1-1,5 jam perjalanan sampai Rp 500.000 untuk 3-4 jam perjalanan. Makin lama waktu perjalanan yang dipilih, makin lengkap lokasi wisata bencana yang dikunjungi.

Saya dan keluarga memilih paket 1 jam perjalanan. Anak-anak kebetulan mendapat pemandu yang sengaja melewati jalan berbatu dengan kemiringan lebih dari 45 derajat sampai masuk ke kubangan air yang membuat mereka basah kuyup. Saya cukup menikmati perjalanan santai saja karena membawa 2 orang eyang yang harus dijaga.







Lokasi yang mula-mula dikunjungi adalah museum ‘sisa hartaku’, yaitu rumah salah satu penduduk yang menjadi korban erupsi, lengkap dengan sisa-sisa barang, ternak  yang meleleh karena terkena awan panas.

Setelah itu, kami kami berfoto-foto di lokasi berbatu-batu yang eksotik. Perjalanan di lanjutkan mengunjungi bunker yang pernah menelan korban 2 orang anggota SAR dan mengunjungi batu alien, yaitu sebuah batu besar yang jika dilihat dari berbagai sisi, menunjukan banyak wajah.




Setelah puas ber off road, jeep membawa kami kembali ke base camp.