Selasa, 07 April 2015

Mbak Kenti…Oh…Mbak Kenti


Ting…Tong…
“….Buuuuu…..kulonuwun…..”
“…Buuuuu…sayur bu….”

            Suara tukang sayur gendong langganan ibu saya terdengar dari teras depan.
Mbak Kenti nama penjual sayur gendong itu. Dia sudah menjadi langganan ibu saya sejak kami pindah ke desa  Nuren yang terletak di tepi jalan raya menuju Kopeng. Seingat saya, dia sudah mulai menawarkan dagangannya sejak tahun 1990. Sejak saya masih kuliah.
  

          Ibu saya bercerita, mbak Kenti, tinggal jauh dari tempat dia berkeliling menawarkan dagangannya. Dia berjalankan kaki pulang pergi. Perjalanan jauh berkilo-kilometer, menawarkan dagangannya dari satu pintu ke pintu lain, membuat dia baru sampai rumah ibu saya sekitar jam 2 atau 3 siang.
            Jika dia mulai berangkat dari rumah saat setelah subuh, dan jam 2 masih menawarkan sayuran dagangannya…bisa diperkirakan jarak tempuh perjalanannya yang sangat jauh. Pada jam itu, tentu saja sayuran yang dia tawarkan tidak lagi sesegar saat masih pagi. Ibu saya tidak pernah tega menolak dagangannya. Walau hanya sekedar membeli sayur bayam yang mulai layu, ibu saya tetap bersedia membelinya. Paling tidak dari rumah ibu saya, mbak Kenti berhasil mengantongi Rp 5,000,-
            Tahun lalu  saya datang mengunjungi ibu saya dan menginap selama beberapa hari disana.Kebetulan anak-anak diajak papanya menginap di vila sepupunya.  Seperti saat kuliah, saya memilih tidur bersama ibu saya di kamarnya. Siang itu saat saya masih bermalas-malasan di kamar ibu, saya dikejutkan oleh seorang wanita yang mengintip ke dalam rumah dari jendela kamar ibu saya. Dengan kaget saya berlari keluar kamar dan langsung menemui ibu saya yang sedang memasak di dapur.
"Bu, ada perempuan yang ngintip dari jendela kamar ibu"
Dengan tenang ibu saya berkata, "Oh itu mbak Kenti. Dia biasa ngintip gitu sebelum membunyikan bel. Kamu inget mbak Kenti kan? Dia sudah jual sayuran keliling sejak kamu masih kuliah"
Iya saya ingat mbak Kenti. Saat kami baru pindah ke desa Nuren, kami selalu berlangganan sayur pada mbak Kenti. Dia selalu membawa jajanan pasar  murah meriah yang kami suka. Mbak Kenti sudah berjualan sejak muda, sejak belum ada si mamang, tukang sayur keliling yang menggunakan motor.
            Dengan bergesernya waktu, mbak Kenti mulai mendapat persaingan ketat dari penjual sayur lainnya,  Salah satu pesaingnya adalah si mamang yang masih muda, pakai motor, membawa dagangan yang lebih banyak dan komplit, dan yang pasti, si mamang sudah sampai di rumah ibu saya pada jam 8 pagi Namun mbak Kenti pantang menyerah. Dia tetap berkeliling ke desa-desa yang dia lewati menawarkan sayuran yang dia bawa tanpa kenal lelah, panas dan hujan tidak menghalangi langkah kaki kurusnya untuk terus berjalan.
            Bulan lalu saya kembali menginap di rumah ibu saya untuk melepas kangen. Selama tiga hari saya disana, saya tidak melihat sosok mbak Kenti yang mengintip ke jendela kamar ibu atau membunyikan bel rumah. Kemudian saya bertanya pada ibu saya,
“Bu, tumben mbak Kenti nggak keliatan beberapa hari ini?”
“Kayaknya mbak Kenti lagi rewang di tetangganya yang punya hajatan”, jawab ibu. Lalu meluncurlah cerita ibu tentang mbak Kenti yang tidak pernah putus asa dalam mencari nafkah, bertahun-tahun menjalani profesinya tanpa pernah kenal lelah dan mengeluh. Ibu juga bercerita, saat saya menikah 20 tahun lalu, mbak Kenti juga hadir dan menyelipkan amplop berisi uang ke tangan ibu saya. Di desa tempat tinggal ibu saya, jika ada salah satu warga yang menikahkan anaknya, maka para tetangga jauh dan dekat akan datang memberi selamat tanpa perlu kita buatkan daftar undangan.  Mbak Kenti menghadiri perkawinan saya karena mengenal keluarga kami dan memberikan amplop yang mungkin berisi keuntungan berjualannya selama 10 hari. Bagi kami, kehadiran tetangga-tetangga kami sudah merupakan kebahagiaan tersendiri tanpa perlu ada amplop sebagai bentuk mereka ikut merasakan kebahagiaan kami.

Hari ini saya duduk di teras rumah ibu menunggu kedatangan mbak Kenti, saya ingin mengulang kenangan masa kuliah, mencari jajan pasar yang murah meriah dari gendongan mbak Kenti, makan jajanan tersebut sambil mengobrol. Dari jauh saya melihat sosok kurus membawa tenggok yang digendong di punggungnya dengan menggunakan jarit, berjalan memasuki halaman rumah ibu saya, memakai sendal jepit yang sudah tipis, namun tetap menebarkan senyumannya yang khas. Tanpa menunjukan wajah kelelahan dia berkata, “Sayur bu...”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar